LOMBOK BARAT, ARUSMEDIA.ID – Menjadi manusia yang pandai bersyukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah. Rasa syukur semestinya hadir dalam perilaku sehari-hari, tercermin melalui akhlak yang baik, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Pesan itulah yang disampaikan Anggota DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid, saat menjadi khatib salat Jumat di Masjid Nurul Jihad, Desa Sesaot, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Jumat (23/10/2026).

Dalam khotbahnya, Fauzan Khalid mengajak jemaah menjadikan rasa syukur, amal saleh, dan kepedulian sosial sebagai bagian penting dari kehidupan.

Menurut dia, tujuan hidup yang mulia tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari seberapa besar kebaikan yang dapat diberikan kepada orang lain.

“Marilah kita menjadi manusia yang pandai bersyukur, menjadi pribadi yang selalu berbuat baik dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Hal ini adalah salah satu tujuan hidup yang paling mulia bagi kita semua,” ujar Fauzan Khalid.

Anggota Komisi II DPR RI dari daerah pemilihan NTB II/Pulau Lombok itu menjelaskan, hakikat bersyukur tidak berhenti pada ucapan lisan.

Lebih dari itu, syukur merupakan bentuk kesadaran untuk mengakui, menghargai, dan memaknai setiap nikmat serta karunia yang diterima dalam kehidupan.

Nikmat tersebut dapat berupa kesehatan, kesempatan, rezeki, keluarga, maupun pertolongan yang datang melalui orang-orang di sekitar.

Karena itu, rasa syukur perlu diwujudkan dalam sikap yang menghargai pemberian Allah SWT sekaligus dalam perilaku yang membawa kebaikan bagi sesama.

Fauzan Khalid menegaskan, keyakinan bahwa Allah SWT merupakan sumber segala nikmat semestinya mendorong setiap muslim untuk memperkuat rasa syukur dan memperbaiki kualitas hidupnya.

“Rasa syukur ini akan membuka pintu-pintu nikmat yang lebih besar,” jelas Fauzan, yang pernah menjabat Bupati Lombok Barat selama dua periode (2016–2024) tersebut.

Dalam khotbah tersebut, Fauzan Khalid juga mengingatkan bahwa peningkatan ketakwaan tidak cukup diwujudkan melalui hubungan manusia dengan Allah SWT.

Ketakwaan juga perlu tercermin dalam hubungan yang baik antarmanusia melalui amal saleh dan kepedulian sosial.

Menurut dia, rasa syukur seharusnya membuat seseorang semakin peka terhadap keadaan di sekelilingnya.

Ketika melihat orang lain mengalami kesulitan, kepedulian tidak semestinya berhenti pada rasa iba, tetapi dilanjutkan dengan tindakan nyata sesuai kemampuan masing-masing.

Ia mengajak jemaah untuk menjaga lingkungan, membantu kelompok yang lemah, serta meringankan beban orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Pesan tersebut menempatkan kebaikan sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak semua orang harus melakukan tindakan besar untuk memberi manfaat. Kepedulian dapat dimulai dari lingkungan keluarga, tetangga, tempat kerja, hingga masyarakat yang lebih luas.

Fauzan Khalid juga menekankan pentingnya menjaga akhlak mulia dalam setiap interaksi. Bertutur kata dengan sopan, bersikap jujur dalam berniaga, serta menjauhi iri hati, dengki, dan adu domba merupakan bagian dari upaya menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Di tengah kehidupan sosial yang rentan diwarnai perbedaan pendapat dan kesalahpahaman, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadi sumber pertengkaran maupun perpecahan.

“Tebar kebaikan. Mari kita menjadi agen penyejuk di masyarakat, bukan pembawa perpecahan,” tandasnya.

Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan tidak selalu harus dimulai melalui langkah besar.

Sikap saling menghormati, kemampuan menahan diri, dan kebiasaan menyampaikan sesuatu secara bijaksana merupakan tindakan sederhana yang dapat membantu menciptakan lingkungan sosial yang lebih damai.

Fauzan Khalid menilai, berbuat baik kepada sesama merupakan salah satu cerminan keimanan yang hidup. Kebaikan tidak harus diwujudkan melalui bantuan materi dalam jumlah besar atau kegiatan sosial berskala luas.

Tindakan sederhana, seperti tersenyum, menyingkirkan duri dari jalan, membantu saudara yang sedang kesulitan, hingga menjaga lisan agar tidak melukai perasaan orang lain, juga memiliki nilai kebaikan.

Hal-hal kecil tersebut kerap dianggap sepele, padahal dapat memberikan dampak nyata bagi orang lain.

Perkataan yang santun, misalnya, dapat meredakan ketegangan. Sementara bantuan sederhana bisa meringankan beban seseorang yang sedang menghadapi persoalan.

Menurut Fauzan Khalid, kebiasaan berbuat baik juga dapat menghadirkan ketenangan batin dan kebahagiaan yang tidak selalu dapat diukur dengan materi.

Karena itu, ia mendorong masyarakat agar tidak menunggu memiliki kekayaan, jabatan, atau kemampuan luar biasa untuk mulai memberikan manfaat.

Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik melalui hal-hal yang dapat dijangkau dalam kehidupannya masing-masing.

Menutup khotbahnya, Fauzan Khalid kembali mengajak jemaah untuk menjadikan kebermanfaatan sebagai prinsip dalam menjalani kehidupan.

Menurut dia, semangat membantu dan memberi manfaat kepada orang lain sejalan dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam Islam.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” ucapnya.

Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan nyata, mulai dari membantu tetangga, meringankan pekerjaan rekan kerja, terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar, hingga berbagi ilmu dan pengalaman kepada mereka yang membutuhkan.

Pesan yang disampaikan Fauzan Khalid menegaskan bahwa rasa syukur, akhlak mulia, dan kepedulian sosial merupakan nilai-nilai yang saling berkaitan.

Rasa syukur tidak hanya memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, tetapi juga semestinya mendorong lahirnya perilaku yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.

Pada akhirnya, ukuran kebaikan bukan semata-mata seberapa besar sesuatu yang diberikan, melainkan juga ketulusan untuk membantu dan kesediaan menghadirkan dampak positif bagi orang lain.

Dari keluarga hingga masyarakat, setiap orang memiliki ruang untuk menebar kebaikan. Sebab, kehidupan yang harmonis tidak hanya dibangun oleh mereka yang memiliki kekuasaan atau kelebihan materi, tetapi juga oleh orang-orang yang konsisten menjaga akhlak, menghargai sesama, dan hadir ketika orang lain membutuhkan bantuan.(AM04)