LOMBOK TENGAH, ARUSMEDIA.ID – Deru mesin MotoGP di Pertamina Mandalika International Circuit bukan sekadar menghadirkan tontonan balap kelas dunia.

Di balik kemeriahan ajang internasional tersebut, ada peluang besar untuk menggerakkan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai dari sektor perhotelan, restoran, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan dampak ekonomi itu tidak berhenti ketika balapan usai.

Penguatan dampak ekonomi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.

Selain mengangkat citra Mandalika sebagai destinasi sport tourism atau pariwisata olahraga, ajang ini diharapkan mampu memperluas kesempatan usaha, mempercepat investasi, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Hal itu mengemuka dalam konferensi pers di Media Center Indonesia, Sabtu (10/10/2026), yang menghadirkan Direktur Operasi Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Troy Reza Warokka dan Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Ananda Mikola.

Troy menegaskan, keberhasilan MotoGP tidak semestinya hanya diukur dari aktivitas transaksi di kawasan sirkuit maupun festival pendukung.

Pergerakan wisatawan, tingkat hunian hotel, aktivitas restoran, transportasi udara, dan transaksi pelaku usaha lokal juga menjadi bagian penting dalam melihat dampak ekonomi secara menyeluruh.

“Dampak ekonomi MotoGP tidak hanya dilihat dari aktivitas di area festival, tetapi juga dari pergerakan sektor perhotelan, restoran, transportasi, UMKM, dan pariwisata. Kami berharap manfaat penyelenggaraan ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan pelaku usaha lokal,” ujar Troy.

Menurut dia, pemantauan dampak ekonomi dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk survei sebelum penyelenggaraan.

Pendekatan tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai aktivitas ekonomi yang muncul selama ajang berlangsung.

Dampak tersebut juga diperkirakan tidak langsung berakhir setelah rangkaian acara selesai. Mobilitas wisatawan dan penumpang pesawat berpotensi menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak hingga dua atau tiga hari setelah penyelenggaraan.

Salah satu sektor yang mendapat perhatian adalah UMKM. Sekitar 600 UMKM disebut terlibat dalam rangkaian festival yang menyertai MotoGP Mandalika 2026.

Keterlibatan ini membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, menjangkau konsumen baru, dan memanfaatkan meningkatnya kunjungan wisatawan.

Festival tersebut turut dimeriahkan penampilan Happy Asmara dan Judika, disertai berbagai kegiatan hiburan serta pembagian hadiah.

Kehadiran beragam aktivitas pendukung diharapkan dapat meningkatkan daya tarik pengunjung sekaligus memperluas peluang transaksi bagi pelaku usaha.

Bagi UMKM lokal, momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.

Namun, manfaat ekonomi yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan promosi, akses pasar, kualitas produk, serta pengelolaan usaha yang baik.

Troy mengatakan, evaluasi dari penyelenggaraan tahun sebelumnya terus dilakukan, terutama dalam aspek promosi, persiapan acara, dan penguatan kegiatan pendukung.

Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya tarik kawasan dan mengoptimalkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan demikian, festival tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap ajang balap, tetapi juga menjadi salah satu sarana untuk menghubungkan arus kunjungan wisatawan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Di luar momentum MotoGP, pengembangan kawasan Mandalika juga diarahkan pada peningkatan fasilitas pariwisata dan percepatan realisasi investasi.

Pengembangan resor, hostel, restoran, serta fasilitas pendukung lainnya dinilai penting untuk memperkuat daya tarik kawasan bagi wisatawan maupun pelaku usaha.

Troy menekankan bahwa rencana pengembangan kawasan perlu diikuti kepastian pelaksanaan investasi. Tanpa realisasi yang jelas, potensi pertumbuhan kawasan akan sulit diterjemahkan menjadi pembangunan fasilitas, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan aktivitas ekonomi.

“Pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada konten, aktivitas, dan fasilitas yang dapat meningkatkan daya tarik Mandalika. Percepatan investasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan kawasan,” katanya.

Menurutnya, penyelenggaraan acara internasional dapat menjadi salah satu pendorong aktivitas pariwisata dan investasi.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi tidak dapat dicapai hanya melalui satu kegiatan besar. Dibutuhkan kesinambungan program, kepastian investasi, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan agar potensi kawasan dapat berkembang secara optimal.

Ketersediaan fasilitas yang memadai juga berperan dalam meningkatkan pengalaman wisatawan. Semakin beragam pilihan akomodasi, kuliner, dan aktivitas wisata, semakin besar pula peluang untuk mendorong kunjungan yang lebih lama dan memperluas belanja wisatawan di sekitar kawasan.

Sementara itu, Direktur Utama MGPA Ananda Mikola menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, investor, pelaku usaha, media, dan masyarakat dalam mendukung pengembangan Mandalika.

Menurut Ananda, peluang investasi harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia lokal, dukungan fasilitas, serta iklim usaha yang mendukung keberlanjutan kegiatan ekonomi.

Modal dan pembangunan infrastruktur saja tidak cukup jika masyarakat belum memiliki kesempatan dan kapasitas untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan kawasan.

“Keberhasilan pengembangan kawasan tidak hanya bergantung pada modal, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dan kolaborasi seluruh pihak. Sinergi tersebut diperlukan agar investasi dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi kawasan dan masyarakat,” ujar Ananda.

Penguatan kualitas tenaga kerja lokal menjadi penting agar kebutuhan industri pariwisata dapat diisi oleh masyarakat sekitar.

Di sisi lain, pelaku UMKM membutuhkan kesempatan untuk terlibat dalam rantai pasok pariwisata, baik melalui penyediaan produk, layanan, maupun kebutuhan operasional berbagai kegiatan.

Keterhubungan antara investasi, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan UMKM menjadi salah satu faktor yang menentukan sejauh mana pertumbuhan kawasan dapat dirasakan secara lebih luas.

Penyelenggaraan MotoGP memberikan Mandalika momentum untuk menarik perhatian dunia sekaligus memperkenalkan potensi pariwisata NTB kepada pasar yang lebih luas. Namun, nilai strategis ajang ini tidak hanya terletak pada kemeriahan selama akhir pekan balapan.

Tantangan yang lebih besar adalah menjaga agar kunjungan wisatawan, aktivitas usaha, dan minat investasi tetap tumbuh setelah acara berakhir.

Hal itu membutuhkan kalender kegiatan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas layanan, promosi destinasi, serta kepastian realisasi investasi.

Melalui pengembangan fasilitas pariwisata, keterlibatan UMKM, dan penguatan sumber daya manusia lokal, Mandalika diharapkan mampu memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian NTB.

Pada akhirnya, keberhasilan MotoGP Mandalika bukan hanya tentang menghadirkan balapan kelas dunia, melainkan juga tentang bagaimana momentum tersebut menciptakan peluang usaha, membuka lapangan kerja, dan membangun pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.(AM04)