MATARAM, ARUSMEDIA.ID – Tantangan umat tidak cukup dijawab dengan ceramah dan wacana. Dibutuhkan gerakan yang mampu menyentuh persoalan pendidikan, ekonomi, hukum, kesehatan, hingga kehidupan sosial masyarakat.
Di tengah kebutuhan tersebut, Forum Ulama dan Aktivis Islam (FORMULA) Nusa Tenggara Barat (NTB) memulai babak baru kepemimpinan dengan menyiapkan 14 bidang strategis sebagai penggerak organisasi selama lima tahun ke depan.
TGH. Musta’in resmi dilantik sebagai Ketua Pengurus Wilayah (PW) FORMULA NTB masa khidmat 2026–2031.
Pelantikan berlangsung di Hotel Lombok Raya, Mataram, Sabtu (7/11/2026), sekaligus dirangkaikan dengan Rapat Kerja Wilayah (Rakelwil).
Momentum ini menjadi titik awal konsolidasi organisasi untuk memperkuat peran ulama dan aktivis Islam dalam merespons berbagai persoalan masyarakat di NTB.
Kepemimpinan TGH. Musta’in berada dalam koordinasi organisasi yang dipimpin Ketua Umum FORMULA, TGH. Dedi Hermanto.
Kepengurusan baru tersebut menghimpun unsur ulama, tuan guru, akademisi, intelektual, serta aktivis Islam yang diharapkan mampu membangun gerakan lebih terarah dan berdampak luas.
Pelantikan ini bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, FORMULA NTB dihadapkan pada tuntutan untuk memperkuat konsolidasi internal sekaligus membuktikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Di bawah kepemimpinan TGH. Musta’in, struktur pengurus wilayah diperkuat tiga wakil ketua, yakni H. Fakhrurman Putra, Ustadz Safarudin Kia, dan H. Jamaruddin.
Posisi sekretaris dipercayakan kepada H. Jalaluddin dengan dukungan tiga wakil sekretaris. Sementara itu, jabatan bendahara diemban H. Ahmad Jauhari, didampingi HM Tufik Sangau sebagai wakil bendahara.
Struktur tersebut diharapkan menjadi fondasi koordinasi organisasi, mulai dari perencanaan program, penguatan komunikasi antarpengurus, hingga pelaksanaan kegiatan secara terukur.
Salah satu kekuatan kepengurusan FORMULA NTB periode 2026–2031 terletak pada keterlibatan sejumlah tokoh ulama dan akademisi dalam jajaran struktural organisasi.
Pada Majelis Pertimbangan, HL Suhaimi Ismi dipercaya sebagai ketua dengan TGH Abdul Manan, Lc. sebagai sekretaris.
Sementara Dewan Pakar diketuai TGH. M. Taufik. Ia didampingi TGH. Fahrurrozi Dahlan sebagai wakil ketua dan KH. Subhan Abdullah Asim sebagai sekretaris.
Kehadiran para tokoh tersebut diharapkan memberikan penguatan dari sisi keilmuan, pertimbangan strategis, serta arah kebijakan organisasi.
Dengan demikian, setiap program yang dirancang tidak hanya berorientasi pada aktivitas kelembagaan, tetapi juga memiliki landasan pemikiran dan kebutuhan masyarakat.
Pada jajaran Dewan Pembina turut tercantum unsur Gubernur NTB, Kementerian Agama NTB, Kesbangpoldagri NTB, Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB, dan Kapolda NTB.
Komposisi tersebut menunjukkan adanya keterlibatan unsur pemerintahan dan kelembagaan dalam struktur pembinaan organisasi.
Perhatian utama dalam kepengurusan baru FORMULA NTB juga terlihat dari pembentukan 14 bidang strategis yang akan menjadi ujung tombak pelaksanaan program selama lima tahun mendatang.
Keempat belas bidang tersebut mencakup Pengembangan Ilmu Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Dakwah, Pendidikan, Kaderisasi, Hukum dan HAM, serta Pengembangan Usaha dan Ekonomi Umat.
Selain itu, terdapat bidang Pembinaan Masyarakat dan Perempuan, Pembinaan Pemuda dan Remaja, Seni, Budaya dan Olahraga, Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan, Hubungan Antar Lembaga, Hubungan Masyarakat, Informasi dan Teknologi (IT), serta Lingkungan Hidup.
Susunan bidang tersebut memperlihatkan bahwa ruang gerak FORMULA NTB tidak hanya bertumpu pada aktivitas dakwah dan penguatan kehidupan keagamaan.
Organisasi juga menempatkan pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, perlindungan hukum dan HAM, kesehatan masyarakat, pembinaan generasi muda, hingga kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari agenda pengabdian.
Keberadaan bidang-bidang tersebut menjadi peluang bagi FORMULA NTB untuk membangun program yang lebih spesifik sesuai kebutuhan masyarakat.
Tantangannya adalah memastikan setiap bidang tidak sekadar menjadi pelengkap struktur, melainkan benar-benar aktif menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya.
Sebab, banyaknya bidang dalam sebuah organisasi tidak otomatis menjamin besarnya kontribusi. Konsistensi program, kualitas sumber daya manusia, koordinasi, serta kemampuan membaca persoalan masyarakat akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan kepengurusan.
Rangkaian pelantikan dan Rapat Kerja Wilayah menjadi momentum penting untuk menerjemahkan visi organisasi ke dalam program yang lebih konkret.
Melalui Rakelwil, pengurus diharapkan dapat menyusun prioritas kerja, memperkuat koordinasi antarb idang, serta menetapkan langkah strategis yang realistis dan terukur.
Agenda lima tahun ke depan juga menuntut FORMULA NTB untuk mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
Sinergi antara ulama, akademisi, pemerintah, lembaga sosial, dan elemen masyarakat menjadi salah satu modal penting dalam memperluas dampak program organisasi.
Di bawah kepemimpinan TGH. Musta’in, tantangan terbesar bukan hanya membangun organisasi yang solid secara struktural, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Publik tentu menantikan kontribusi FORMULA NTB dalam memperkuat nilai-nilai keislaman, menjaga persatuan, mendorong kemajuan pendidikan, memperjuangkan keadilan sosial, serta meningkatkan kemandirian ekonomi umat.
Dengan dukungan Ketua Umum FORMULA TGH. Dedi Hermanto, jajaran pengurus wilayah, barisan ulama dan akademisi, serta 14 bidang strategis, FORMULA NTB kini memasuki periode pengabdian baru.
Amanah 2026–2031 akan menjadi ujian sekaligus kesempatan bagi kepemimpinan TGH. Musta’in. Pada akhirnya, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari lengkapnya struktur kepengurusan atau banyaknya program yang direncanakan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang benar-benar hadir dan dirasakan umat di NTB.(AM04)






