LOMBOK TENGAH, ARUSMEDIA.ID – Gelaran MotoGP Mandalika 2026 bukan sekadar panggung adu kecepatan para pembalap dunia.

Di balik persaingan di lintasan Pertamina Mandalika International Circuit, ada dua pekerjaan besar yang menjadi sorotan: memastikan keselamatan balapan sekaligus membangun pembinaan pembalap Indonesia agar mampu bersaing di level internasional.

Kedua agenda tersebut mengemuka menjelang balapan utama Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (11/10/2026) pukul 15.00 Wita.

Evaluasi teknis sirkuit dan penguatan ekosistem olahraga balap nasional dinilai menjadi bagian penting dari upaya menjadikan Mandalika lebih dari sekadar tuan rumah ajang balap kelas dunia.

Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Ananda Mikola, bersama Direktur Operasi Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Troy Reza Warokka, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Media Center Indonesia, Sabtu (10/10/2026).

Keduanya menyoroti pentingnya penyelenggaraan balapan yang mengutamakan keselamatan, didukung evaluasi teknis secara berkelanjutan, serta diiringi pembinaan atlet yang terarah.

Dengan demikian, manfaat MotoGP Mandalika diharapkan tidak berhenti pada suksesnya penyelenggaraan, tetapi juga berkontribusi terhadap masa depan olahraga otomotif Indonesia.

Ananda Mikola menegaskan bahwa keselamatan pembalap menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan MotoGP Mandalika.

Sejumlah aspek teknis lintasan perlu terus diperhatikan untuk mengidentifikasi potensi risiko dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.

Faktor tersebut meliputi karakteristik aspal, daya cengkeram ban atau grip, kemiringan lintasan, hingga kondisi permukaan sirkuit.

Seluruh elemen itu memiliki peran dalam menentukan bagaimana motor merespons kondisi lintasan ketika pembalap melaju dalam kecepatan tinggi.

Evaluasi juga mencakup area gravel serta sistem pengereman. Kedua aspek tersebut penting dalam mendukung upaya mengurangi risiko ketika pembalap kehilangan kendali atau keluar dari lintasan.

Pemanfaatan teknologi, termasuk sensor dan drone khusus, turut menjadi bagian dari upaya pemantauan dan evaluasi teknis sirkuit.

Pendekatan ini diharapkan membantu proses identifikasi kondisi lintasan sehingga potensi persoalan dapat ditangani secara tepat.

“Keselamatan pembalap menjadi perhatian utama. Karakteristik lintasan, daya cengkeram ban, serta kondisi area gravel perlu terus dievaluasi agar potensi risiko dapat diidentifikasi dan ditangani dengan tepat,” ujar Ananda.

Evaluasi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan balap kelas dunia membutuhkan perhatian yang tidak hanya berfokus pada kesiapan acara.

Pemeliharaan lintasan, pemantauan kondisi teknis, serta pengelolaan aspek keselamatan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kualitas penyelenggaraan secara berkelanjutan.

Di luar kesiapan sirkuit, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah memperkuat pembinaan pembalap Indonesia.

Kehadiran MotoGP di Mandalika membuka ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan persaingan kelas dunia, tetapi peningkatan kualitas atlet lokal membutuhkan proses yang lebih panjang dan terstruktur.

Direktur Operasi ITDC, Troy Reza Warokka, menilai pembinaan pembalap harus dilakukan secara berkelanjutan melalui program yang terarah, dukungan fasilitas, serta kolaborasi berbagai pihak.

Menurutnya, pengembangan atlet tidak cukup hanya memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kompetisi.

Pembinaan juga perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan teknis, pengalaman bertanding, dan daya saing agar pembalap Indonesia memiliki peluang meraih prestasi lebih tinggi di tingkat internasional.

“Pembinaan pembalap perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak. Kami ingin pengembangan ini tidak hanya berorientasi pada partisipasi, tetapi juga pada peningkatan kualitas dan daya saing agar pembalap Indonesia mampu meraih prestasi yang lebih tinggi,” ujar Troy.

Pengalaman pembinaan pembalap Jepang turut menjadi salah satu referensi yang disoroti dalam upaya meningkatkan kualitas pengembangan atlet Indonesia.

Namun, penerapan pendekatan pembinaan perlu didukung program yang konsisten dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi ekosistem balap nasional.

Dukungan fasilitas, keterlibatan mitra industri, pengembangan pasar, serta peningkatan kualitas dan efisiensi juga dinilai berperan dalam memperkuat fondasi olahraga balap nasional.

Jika dikelola secara terarah, pembinaan berkelanjutan dapat membuka kesempatan lebih luas bagi talenta lokal untuk mengembangkan kemampuan, mendapatkan pengalaman kompetitif, dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Penguatan olahraga otomotif tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah, pengelola kawasan, pengelola sirkuit, mitra industri, serta lembaga pembinaan atlet perlu membangun sinergi agar program pengembangan berjalan secara konsisten.

Ananda menilai dukungan fasilitas dan kesiapan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem balap yang lebih kuat.

Kolaborasi antarpemangku kepentingan dibutuhkan agar keberadaan sirkuit berstandar internasional dapat berjalan beriringan dengan pengembangan atlet dan peningkatan kapasitas industri olahraga otomotif nasional.

Sementara itu, Troy menyampaikan apresiasi kepada para marshal, petugas lapangan, kepolisian, serta seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.

Peran mereka menjadi bagian penting dalam mendukung jalannya balapan agar berlangsung aman, nyaman, dan kondusif bagi pembalap maupun penonton.

Keberhasilan penyelenggaraan ajang sebesar MotoGP membutuhkan koordinasi banyak unsur, mulai dari pengamanan, operasional lintasan, hingga pelayanan kepada pengunjung.

Karena itu, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas penyelenggaraan di Mandalika.

Menjelang balapan utama MotoGP Mandalika 2026, perhatian terhadap keselamatan lintasan dan pembinaan atlet memperlihatkan bahwa pengembangan olahraga balap Indonesia membutuhkan dua langkah yang berjalan beriringan: menjaga standar penyelenggaraan dan menyiapkan generasi pembalap yang kompetitif.

Sirkuit internasional dapat menjadi modal penting, tetapi fasilitas saja tidak cukup untuk melahirkan atlet berprestasi.

Diperlukan sistem pembinaan yang berkesinambungan, dukungan pendanaan dan fasilitas, kesempatan berkompetisi, serta evaluasi yang terukur.

Di sisi lain, evaluasi teknis sirkuit juga perlu dilakukan secara konsisten agar aspek keselamatan tetap menjadi landasan utama penyelenggaraan balapan.

Melalui kolaborasi antara pengelola kawasan, pengelola sirkuit, pemerintah, industri, dan lembaga pembinaan, MotoGP Mandalika diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi olahraga otomotif nasional.

Dengan begitu, Mandalika tidak hanya dikenal sebagai lokasi berlangsungnya balapan kelas dunia, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem balap Indonesia yang lebih kuat dan membuka jalan bagi pembalap nasional untuk bersaing di panggung internasional.(AM04)