LOMBOK TENGAH, ARUSMEDIA.ID – Pelestarian budaya lokal membutuhkan lebih dari sekadar panggung pertunjukan. Dukungan nyata, ruang tampil, dan pembinaan berkelanjutan menjadi kunci agar kesenian tradisional tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Komitmen itu ditunjukkan Anggota DPR RI Fraksi NasDem, H. Fauzan Khalid, saat menemui para seniman Cilokak Alur Wah, di Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (13/10/2026).

Dalam kunjungan pada masa reses Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027 tersebut, Fauzan Khalid tidak hanya bersilaturahmi dengan para pelaku seni tradisional Sasak.

Ia juga menyatakan kesediaannya menjadi pembina Grup Cilokak Alur Wah serta berupaya membuka kesempatan bagi kelompok seni tersebut untuk tampil dalam berbagai ajang besar di Lombok.

Langkah itu menjadi bentuk dukungan terhadap keberlangsungan Cilokak, kesenian musik tradisional khas Suku Sasak yang tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menyimpan pesan moral, nasihat kehidupan, dan nilai-nilai budaya masyarakat Lombok.

“Silaturahmi kepada para seniman lokal ini sebagai wujud apresiasi dan perhatian kami, khususnya Fraksi NasDem DPR RI kepada para seniman. Kami berkomitmen untuk terus mendukung dan bersama-sama ikut melestarikan Cilokak sebagai kesenian khas Sasak yang sangat berharga ini,” kata Fauzan Khalid.

Anggota Komisi II DPR RI dari daerah pemilihan NTB II/Pulau Lombok itu menilai, kesenian tradisional memiliki peran penting dalam menjaga identitas masyarakat.

Karena itu, keberadaannya perlu mendapatkan perhatian agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Cilokak merupakan kesenian musik tradisional masyarakat Sasak yang berkembang di Pulau Lombok. Menurut Fauzan Khalid, istilah Cilokak berkaitan dengan kata seloka dalam bahasa Sasak, yang merujuk pada untaian syair atau puisi.

Kesenian ini disebut bermula dari wilayah Sakra, Lombok Timur, sebelum berkembang ke berbagai daerah lain di Pulau Lombok, termasuk Lombok Tengah.

Keistimewaan Cilokak terletak pada perpaduan musik dan syair yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Lirik-liriknya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memuat pesan tentang kehidupan, petuah, doa, hingga nasihat yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam dan kearifan lokal masyarakat Sasak.

Syair tersebut kerap disampaikan dalam bentuk lelakaq atau kayaq, tradisi ungkapan bersyair yang menjadi bagian dari kekayaan ekspresi budaya masyarakat setempat.

Melalui syair dan irama musiknya, Cilokak menjadi salah satu media penyampaian pesan yang dekat dengan masyarakat.

Nilai-nilai kehidupan dapat disampaikan melalui pertunjukan yang menghibur, sehingga tradisi ini memiliki fungsi sosial sekaligus budaya.

Dari sisi musikalitas, Cilokak menghadirkan perpaduan berbagai instrumen tradisional, antara lain gambus, seruling, gendang, viul atau biola, mandolin, rerincik, dan jidur.

Kombinasi instrumen tersebut membentuk karakter musik yang khas dan mengiringi penyampaian syair dalam berbagai kesempatan.

Pertunjukan Cilokak lazim hadir dalam kegiatan masyarakat, seperti pesta perkawinan, khitanan, acara adat, hingga perayaan hari-hari besar daerah.

Kehadirannya menjadi bagian dari suasana kebersamaan sekaligus sarana menjaga hubungan masyarakat dengan warisan budayanya.

Bagi Fauzan Khalid, yang pernah menjabat sebagai Bupati Lombok Barat selama dua periode (2016–2024), pelestarian kesenian tradisional tidak cukup dilakukan dengan mengenang sejarah atau menggelar pertunjukan sesekali.

Diperlukan pembinaan yang berkelanjutan serta kesempatan tampil yang lebih luas agar kelompok seni lokal dapat terus berkembang.

Ia menilai, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seloka Sasak perlu dijaga agar tidak tergerus perubahan zaman.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari menjaga identitas budaya Lombok di tengah perkembangan hiburan modern dan perubahan selera generasi muda.

Atas dasar itu, Fauzan Khalid, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua KPU NTB periode 2008–2013 itu menyatakan siap menjadi pembina Grup Cilokak Alur Wah setelah menerima permintaan dari para seniman.

Ia juga berupaya agar kelompok tersebut memperoleh kesempatan tampil dalam ajang-ajang besar yang diselenggarakan di Lombok.

“Sekali lagi, karena ingin turut melestarikan budaya Sasak, maka saya pun berjanji siap menjadi pembina Grup Cilokak Alur Wah sesuai permintaan para seniman. Saya upayakan agar grup Cilokak bisa pentas pada ajang-ajang besar yang digelar di Lombok,” ujarnya.

Pernyataan tersebut membuka peluang bagi Grup Cilokak Alur Wah untuk memperluas jangkauan pertunjukan sekaligus memperkenalkan kesenian tradisional Sasak kepada masyarakat yang lebih luas.

Meski demikian, keberlanjutan pelestarian Cilokak tetap membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Dukungan terhadap seniman, ruang pertunjukan, regenerasi pelaku seni, serta pengenalan budaya kepada generasi muda menjadi bagian penting agar kesenian ini terus bertahan.

Ketua Grup Cilokak Alur Wah, Sahdan, menyambut baik kesediaan Fauzan Khalid menjadi pembina kelompok seni yang dipimpinnya. Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kesediaan Fauzan untuk mendukung para seniman Cilokak.

Sahdan juga mengapresiasi kunjungan tersebut sebagai bentuk silaturahmi yang memberi perhatian kepada pelaku kesenian tradisional di daerah.

Bagi kelompok seni lokal, dukungan semacam ini menjadi penting untuk memperkuat semangat berkesenian sekaligus membuka peluang agar tradisi yang mereka rawat dapat menjangkau lebih banyak penonton.

Cilokak bukan sekadar rangkaian nada dan syair. Di dalamnya terdapat rekaman nilai, nasihat, dan cara masyarakat Sasak memaknai kehidupan.

Ketika kesenian ini terus dimainkan, pesan-pesan tersebut memiliki kesempatan untuk diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dukungan kepada Grup Cilokak Alur Wah pun diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat keberadaan kesenian tradisional Sasak, bukan hanya sebagai hiburan dalam acara masyarakat, tetapi juga sebagai identitas budaya Lombok yang layak mendapat ruang lebih luas di panggung daerah.

Pelestarian budaya pada akhirnya tidak berhenti pada komitmen. Tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan tersebut berlanjut menjadi pembinaan nyata dan kesempatan tampil yang berkesinambungan, sehingga Cilokak tetap hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi mendatang.(AM04)