MANGGARAI BARAT, ARUSMEDIA.ID – Di tengah duka yang belum reda akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat pesan penting dari dua provinsi tetangga: NTT tidak sendiri.

Pesan itu tidak datang sekadar dalam bentuk ucapan. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal dan Gubernur Bali, I Wayan Koster hadir langsung di NTT untuk melihat kondisi masyarakat terdampak sekaligus memastikan dukungan dari Bali dan NTB benar-benar sampai ke wilayah yang membutuhkan.

Kehadiran kedua gubernur tersebut menjadi bagian dari semangat Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT (KR-BNN) yang kembali bergerak ketika salah satu dari tiga daerah tersebut menghadapi bencana.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dan Gubernur Bali, I Wayan Koster disambut Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat meninjau Posko Utama Penanganan Gempa M7,7 di Pusdalops BPBD Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (20/8/2026).

Pertemuan tiga kepala daerah itu berlangsung dalam suasana haru, tetapi tetap hangat dan penuh keakraban. Lebih dari sekadar agenda pemerintahan, pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan Bali, NTB, dan NTT dibangun di atas semangat persaudaraan.

Di posko utama, Gubernur NTB dan Gubernur Bali menerima laporan langsung mengenai kondisi masyarakat terdampak, tingkat kerusakan bangunan, perkembangan penanganan pengungsi, hingga distribusi bantuan.

Laporan tersebut disampaikan Bupati Manggarai Barat bersama Sekretaris Daerah. Tim BPBD juga memperlihatkan sistem informasi kebencanaan yang menyajikan perkembangan penanganan secara real time.

Data sementara menunjukkan dampak gempa cukup besar. Hingga saat peninjauan, sekitar 7.321 unit rumah tercatat mengalami kerusakan, baik dalam kategori berat, sedang maupun ringan.

Sementara itu, distribusi bantuan terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat dipenuhi secara merata, terutama bagi warga yang masih berada di lokasi pengungsian.

Bagi Gubernur Iqbal, kehadiran Bali dan NTB di NTT bukan sekadar kunjungan antarpemerintah daerah. Ada pengalaman kebencanaan yang membuat solidaritas tersebut terasa lebih dekat.

“Kami pernah merasakan hal yang sama dan sangat memahami bagaimana rasanya menghadapi bencana seperti ini. Kami hadir untuk menyampaikan bahwa saudara-saudara kami di NTT tidak sendiri,” ujar Gubernur Iqbal.

Ia menegaskan, hubungan Bali, NTB, dan NTT tidak boleh berhenti sebagai kerja sama administratif. KR-BNN, menurutnya, harus mampu hadir dalam bentuk tindakan nyata ketika salah satu daerah menghadapi persoalan besar.

“Kami ini bertiga saudara kembar—Bali, NTB, dan NTT. Karena itu, kami akan memberikan apa yang kami bisa untuk membantu saudara-saudara kami di NTT,” tegasnya.

Pernyataan tersebut diamini Gubernur Bali, I Wayan Koster. Menurutnya, solidaritas antardaerah menjadi sesuatu yang penting ketika masyarakat sedang menghadapi musibah.

“Kita ini bersaudara. Kalau saudara kita mengalami musibah, tentu kita ikut merasakan dan hadir untuk memberikan dukungan,” kata Koster.

Dukungan itu pula yang diapresiasi Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, masyarakat, serta seluruh pihak yang sejak awal bergerak membantu penanganan pascagempa.

“Atas nama rakyat dan pemerintah NTT, kami menyampaikan terima kasih. Dukungan dari saudara-saudara kami di Bali dan NTB sangat berarti bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit ini,” ujarnya.

Melki mengatakan, soliditas Bali, NTB, dan NTT bahkan mendapat perhatian pemerintah pusat. Ia menyebut Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menilai hubungan tiga provinsi tersebut sebagai salah satu contoh konkret kerja sama regional.

“Kemarin Pak Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan kepada saya bahwa tiga provinsi ini adalah contoh kerja sama yang paling nyata dan betul-betul solid,” ungkap Melki.

Bagi NTT, dukungan tersebut bukan hanya soal bantuan material. Kehadiran para pemimpin daerah dan masyarakat dari wilayah tetangga juga menjadi suntikan moral bagi warga yang tengah berjuang melewati masa sulit setelah gempa.

Melki berharap dukungan yang terus berdatangan dapat memperkuat semangat masyarakat sekaligus mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak.

“Semoga apa yang diberikan kepada kami di NTT akan menguatkan dan mempercepat semangat pemulihan,” pungkasnya.

Usai meninjau Posko Utama Penanganan Gempa di Manggarai Barat, Gubernur NTB bersama Gubernur NTT dan rombongan bergerak menuju Bandara Komodo Labuan Bajo untuk melanjutkan peninjauan kondisi masyarakat terdampak di Kabupaten Manggarai Timur.

Sementara itu, Gubernur Bali tetap berada di Manggarai Barat untuk melanjutkan agenda peninjauan di wilayah tersebut.

Peninjauan wilayah terdampak dilakukan menggunakan helikopter TNI AD jenis Bell 412 ER HA-5185. Dari udara, rombongan melihat langsung kondisi wilayah yang terdampak sekaligus mendapatkan gambaran lebih utuh mengenai situasi di lapangan.

Momentum tersebut kembali menegaskan bahwa KR-BNN bukan sekadar forum kerja sama antarpemerintah daerah.

Di tengah situasi darurat, kerja sama itu menemukan bentuk paling nyata: hadir ketika dibutuhkan, bergerak ketika ada yang terdampak, dan berbagi beban ketika salah satu saudara sedang menghadapi bencana.

Gempa mungkin mengguncang NTT. Namun, solidaritas Bali dan NTB menunjukkan bahwa guncangan itu tidak harus dihadapi sendirian.

Bali, NTB, dan NTT kembali memperlihatkan bahwa persaudaraan antardaerah bukan sekadar slogan. Ia bisa hadir dalam bentuk bantuan, kunjungan, dukungan moral, dan kerja bersama untuk mempercepat pemulihan. NTT tidak sendiri. Bali dan NTB datang, bersama-sama membantu NTT bangkit.(AM02)