LAMPUNG, ARUSMEDIA.ID – Penguatan ekonomi desa menjadi salah satu pintu masuk Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) untuk memperluas kerja sama dengan daerah lain.
Kali ini, NTB melihat langsung praktik pembangunan desa yang dikembangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Program Desaku Maju.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal memperkuat keterhubungan antardaerah sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman dalam pembangunan.
Pemprov NTB mengirim sejumlah pejabat dan tim ahli ke Lampung untuk memperkuat komunikasi lintas pemerintahan serta menggali potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.
Tim tersebut terdiri atas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi NTB H. Fathul Gani, Kepala Bappeda NTB Bq. Nelly Yuniarti, Kepala Dinas Kominfotik NTB Ahsanul Khalik, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Mirza Amir Hamzah, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian HL Wiranata, serta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Muhammad Riadi.
Turut dalam rombongan Sekretaris BRIDA Retno, Dahlanuddin, Tim Ahli Gubernur Lalu Fahrurrozi, serta Kepala Bidang P2M Bappeda NTB.
Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dengan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.
Dalam pertemuan sebelumnya, kedua kepala daerah membahas pentingnya memperkuat hubungan antardaerah, membangun komunikasi lintas sektor, serta membuka peluang kerja sama dan pertukaran pengalaman pembangunan.
Setibanya di Kantor Gubernur Lampung, rombongan Pemprov NTB diterima Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung, Marindo Kurniawan bersama jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung.
Pertemuan tidak hanya menjadi forum silaturahmi antarpemerintah daerah. Sejumlah potensi kerja sama turut dibahas, terutama terkait pembangunan berbasis desa.
Di titik inilah NTB dan Lampung menemukan irisan program. NTB memiliki Program Desa Berdaya, sedangkan Lampung mengembangkan Program Desaku Maju.
Kedua program sama-sama menempatkan desa sebagai basis penguatan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, pendekatan yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik, potensi, serta kebutuhan masing-masing daerah.
Di NTB, Desa Berdaya dikembangkan melalui pendekatan Desa Berdaya Transformatif dan Desa Berdaya Tematik. Fokusnya mencakup penguatan masyarakat, pengembangan potensi lokal, serta pembangunan ekonomi desa.
Sementara itu, Program Desaku Maju di Lampung diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi desa melalui peningkatan produktivitas pertanian, hilirisasi komoditas, penguatan kelembagaan ekonomi, pelatihan, serta dukungan sarana dan prasarana.
Kesamaan orientasi tersebut membuka peluang pertukaran pengalaman yang lebih konkret.
Desa tidak lagi dipandang sekadar sebagai lokasi pelaksanaan program pemerintah. Lebih dari itu, desa ditempatkan sebagai ruang tumbuhnya produktivitas, inovasi, kemandirian ekonomi, dan kapasitas masyarakat.
Untuk melihat praktik tersebut secara langsung, tim Pemprov NTB kemudian melanjutkan kunjungan ke Desa Wonomarto, Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara.
Di desa tersebut, rombongan diterima unsur pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, serta jajaran terkait. Tim NTB melihat sejumlah praktik pengembangan ekonomi lokal yang berjalan melalui Program Desaku Maju.
Salah satu yang menarik perhatian adalah pengembangan Pupuk Hayati Cair (PHC). Produk tersebut dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas pertanian masyarakat dan dibagikan secara gratis kepada para petani.
Wonomarto juga mengembangkan pakan untuk ternak ayam petelur. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kegiatan ekonomi yang bertumpu pada potensi lokal dan kebutuhan masyarakat desa.
Selain itu, terdapat pengembangan bed dryer, yakni sarana pengering hasil pertanian yang digunakan untuk mempercepat proses pascapanen sekaligus membantu menjaga kualitas komoditas.
Pengelolaan pascapanen menjadi penting karena nilai ekonomi sebuah komoditas tidak berhenti pada proses produksi. Penanganan setelah panen dapat menentukan kualitas, daya simpan, hingga peluang peningkatan nilai tambah yang diterima petani.
Dalam dokumen kunjungan Pemprov NTB, bantuan dryer ditempatkan sebagai bagian dari pendekatan yang menghubungkan produksi, pascapanen, kelembagaan ekonomi, hingga akses pasar.
Praktik tersebut menjadi relevan bagi NTB dalam pengembangan Desa Berdaya. Tantangannya bukan hanya mendorong desa menghasilkan produk, tetapi juga membangun ekosistem yang mampu menghubungkan potensi lokal dengan produktivitas, kapasitas masyarakat, kelembagaan, dan pasar.
Namun, pertukaran pengalaman NTB dan Lampung tidak diarahkan untuk membuat satu model pembangunan desa yang seragam.
Justru sebaliknya, pengalaman dari masing-masing daerah menjadi bahan untuk memperkaya pilihan pendekatan. Model yang berjalan di Lampung dapat menjadi referensi, sementara NTB dapat mengadaptasinya sesuai kondisi sosial, ekonomi, sumber daya, dan karakteristik desa di wilayahnya.
Hal ini menjadi penting karena NTB dan Lampung memiliki karakteristik daerah, komoditas unggulan, struktur ekonomi, serta kebutuhan masyarakat yang tidak sepenuhnya sama.
Perbedaan tersebut justru dapat menjadi modal untuk saling belajar.
Kerja sama antardaerah pada akhirnya tidak harus selalu berbentuk program besar atau kesepakatan formal. Pertukaran pengetahuan, praktik baik, hingga pengalaman mengelola persoalan di tingkat desa juga dapat menjadi bagian penting dari kolaborasi pembangunan.
Bagi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, keterhubungan dengan daerah lain menjadi bagian dari upaya memperluas ruang kolaborasi pembangunan.
Hubungan antarpemerintah daerah diharapkan tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi berkembang menjadi komunikasi produktif, pertukaran pengetahuan, serta peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebab, pembangunan daerah tidak berlangsung dalam ruang yang terpisah. Ketika daerah saling terhubung, pengalaman dapat dipertukarkan, gagasan dapat diuji, dan praktik baik dapat dikembangkan sesuai konteks masing-masing.
Dari NTB dan Lampung, kerja sama antardaerah kini menemukan salah satu titik temunya di desa: bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi produktivitas, bagaimana masyarakat diperkuat menjadi pelaku ekonomi, dan bagaimana pembangunan desa dapat menciptakan kemandirian yang lebih nyata.(AM04)






