DELHI, ARUSMEDIA.ID – Selama berabad-abad, India bukan hanya identik dengan kerajaan-kerajaan Hindu. Di balik sejarah panjang anak benua itu, pernah berdiri kesultanan dan kerajaan Muslim yang membentuk politik, kebudayaan, bahasa, arsitektur, hingga kehidupan masyarakat India.

Salah satu babak terakhirnya berakhir tragis pada 1857, ketika Bahadur Shah Zafar—kaisar Mughal terakhir—ditangkap Inggris dan dibuang ke pengasingan.

Dan jika foto Bahadur Shah Zafar yang beredar itu tampak seperti lukisan, ada alasan mengapa banyak orang keliru mengenalinya.

Bahadur Shah II memang hidup pada masa ketika fotografi sudah berkembang. Namun, tidak semua potret dirinya yang beredar merupakan foto; sebagian merupakan lukisan atau reproduksi dari miniatur. British Library, misalnya, mencatat sejumlah potret Bahadur Shah II sebagai karya lukis dari pertengahan abad ke-19.

Bahadur Shah Zafar—nama yang lebih dikenal dalam sejarah dan kesusastraan—naik takhta pada 1837. Ia merupakan penguasa terakhir Dinasti Mughal, tetapi pada masa pemerintahannya kekuasaan nyata Mughal sudah jauh menyusut. Pengaruh politik Inggris melalui British East India Company justru semakin kuat di berbagai wilayah India.

Kehadiran Inggris di India pada mulanya tidak berlangsung seperti penaklukan sebuah negara secara langsung. British East India Company merupakan perusahaan dagang yang kemudian berkembang menjadi kekuatan politik dan militer yang sangat besar.

Pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19, perusahaan tersebut memperluas pengaruhnya melalui peperangan, perjanjian, aliansi, serta pengambilalihan berbagai wilayah.

Di Delhi, Bahadur Shah Zafar lebih banyak menjadi simbol daripada penguasa dengan kendali politik yang luas. Namun, kedudukannya sebagai kaisar Mughal membuat namanya tetap memiliki bobot simbolis yang besar.

Situasi berubah drastis pada 1857. Pemberontakan yang kemudian dikenal sebagai Indian Rebellion of 1857 bermula dari pemberontakan para sepoy—tentara India yang bertugas dalam pasukan British East India Company—di Meerut. Gerakan itu kemudian meluas ke berbagai wilayah dan melibatkan beragam kelompok masyarakat.

Delhi menjadi salah satu pusat penting pemberontakan.

Para pemberontak membawa Bahadur Shah Zafar ke pusat gerakan dan menjadikannya simbol kepemimpinan.

Karena itu, meskipun kekuasaan riilnya terbatas, keberadaan sang kaisar memberikan legitimasi politik bagi pemberontakan terhadap East India Company.

Sejumlah ulama Muslim juga terlibat dalam dinamika perlawanan 1857. Sejarah mencatat adanya keterlibatan ulama dalam pemberontakan tersebut, meskipun narasi mengenai peran dan kepemimpinan mereka berkembang dalam berbagai sumber dan interpretasi sejarah.

Yang penting, pemberontakan 1857 tidak dapat disederhanakan sebagai perang satu kelompok agama melawan kelompok agama lainnya. Gerakan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat India, termasuk Muslim dan Hindu.

Setelah berbulan-bulan pertempuran, posisi para pemberontak di Delhi semakin terdesak.

Pada September 1857, pasukan Inggris merebut kembali Delhi. Bahadur Shah Zafar kemudian berlindung di kompleks makam Humayun.

Pada 21 September 1857, ia menyerahkan diri kepada William Hodson setelah pengepungan dan negosiasi di sekitar makam tersebut.

Cambridge University Press mencatat bahwa penyerahan sang kaisar menandai runtuhnya harapan untuk menghidupkan kembali Dinasti Mughal sebagai kekuatan politik.

Tragedi berikutnya menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah pemberontakan 1857.

Sehari setelah penyerahan Bahadur Shah Zafar, tiga pangeran Mughal—Mirza Mughal, Mirza Khizr Sultan, dan Mirza Abu Bakr—ditangkap oleh Hodson.

National Army Museum mencatat bahwa ketiganya kemudian ditembak setelah menyerahkan senjata mereka. Sejumlah anggota keluarga kerajaan lainnya juga dihukum atau diasingkan.

Dengan jatuhnya Delhi, simbol kekuasaan Mughal praktis dihancurkan.

Bahadur Shah Zafar sendiri kemudian diadili dan dibuang ke Rangoon, Burma—kini Yangon, Myanmar.

Di tempat pengasingan itu, sang kaisar menjalani sisa hidupnya jauh dari Delhi, kota yang selama puluhan tahun menjadi pusat kehidupannya.

Ia meninggal pada 1862 dalam usia sekitar 87 tahun menurut sebagian catatan, meskipun angka usia dalam sumber-sumber sejarah tidak selalu konsisten.

Pengasingannya menandai berakhirnya Dinasti Mughal secara definitif. Setelah pemberontakan 1857, pemerintahan Inggris di India juga mengalami perubahan besar.

Kekuasaan British East India Company berakhir dan pemerintahan India kemudian secara resmi berada di bawah Mahkota Inggris.

Bagi sejarah India, 1857 bukan sekadar pemberontakan yang gagal. Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang mengubah hubungan antara masyarakat India, kekuasaan Inggris, dan warisan politik Mughal.

Sejumlah sejarawan bahkan menekankan besarnya trauma yang ditinggalkan pemberontakan dan penindasan setelahnya, khususnya terhadap masyarakat Muslim di Delhi.

Namun, runtuhnya sebuah dinasti tidak serta-merta menghapus warisan peradabannya.

Jejak pemerintahan Muslim di India masih dapat ditemukan dalam bahasa, sastra, seni, tata kota, tradisi intelektual, hingga bangunan-bangunan monumental yang bertahan hingga hari ini.

Bahadur Shah Zafar akhirnya menjadi simbol dari sebuah zaman yang berakhir: seorang kaisar yang masih memiliki mahkota ketika kekuasaan politiknya hampir tidak tersisa.

Dari istana Delhi hingga pengasingan di Rangoon, kisahnya memperlihatkan bahwa perubahan kekuasaan tidak selalu datang dalam satu malam.

Ia dapat berlangsung perlahan—melalui perdagangan, ekspansi politik, perang, perjanjian, dan perebutan pengaruh—hingga suatu ketika sebuah kerajaan yang pernah begitu besar hanya tersisa sebagai kenangan sejarah.

Dan sejarah semacam ini penting untuk terus dipelajari bukan untuk menghidupkan kembali konflik masa lalu, melainkan untuk memahami bagaimana kekuasaan, kolonialisme, identitas, dan perubahan politik membentuk India modern.

Karena pada akhirnya, sejarah bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia juga tentang jejak yang ditinggalkan sebuah zaman setelah kekuasaannya berakhir.(AM01)